MASALAH PENELITIAN

Masalah adalah suatu kesenjangan (gap) antara yang seharusnya terjadi dengan yang sudah terjadi, seperti harapan dengan kenyataan, teori dengan praktik, peraturan dengan implementasinya, sehingga menarik minat dan perhatian untuk diteliti. Sedangkan  penelitian (research) adalah suatu proses mencari sesuatu secara sistimatis dalam waktu yang relatif lama dengan menggunakan metode ilmiah serta aturan yang berlaku. Jadi masalah penelitian adalah suatu proses mencari suatu solusi atau tambahan teori mengenai suatu masalah yang akan diteliti dengan menggunakan metodologi penelitian.

Masalah dalam penelitian pendidikan dapat diperoleh dari berbagai sumber yang terkait dengan bidang pendidikan antara lain dari: 1) kepustakaan: laporan penelitian pendidikan sebelumnya, 2) forum pertemuan ilmiah: seminar kependidikan baik bersifat nasional maupun internasional, 3) sumber pengalaman praktek: pengalaman mengajar di kelas, pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Namun demikian masalah yang bersumber dari tempat yang tepat belum tentu semuanya dapat digunakan sebagai masalah penelitian, maka seorang peneliti harus memilih penelitian yang tepat baginya, hal-hal yang harus dilihat dalam memilih penelitian :

  1. Masalah penelitian harus dipilih yang berguna untuk diungkapkan.
  2. Masalah yang dipilih harus relevan dengan kemampuan atau keahlian peneliti.
  3. Masalah penelitian harus menarik perhatian untuk diungkapkan.
  4. Masalah penelitian sedapat mungkin menghasilkan sesuatu yang baru.
  5. Masalah penelitian harus dipilih yang dapat dihimpun datanya secara lengkap dan obyektif.
  6. Masalah penelitian tidak boleh terlalu luas, tetapi juga tidak boleh terlalu sempit.

Masalah atau permasalahan dalam penelitian sering disebut problema atau problematik. Menurut Suharsimi Arikunto (1992:25), problema ini dapat dikelompokkan ke dalam 3 jenis yaitu problema deskriptif, problema komparatif dan problema korelatif.

  • Problema deskriptif, yaitu problema untuk mengetahui status dan mendeskripsikan fenomena. Sehingga lahirlah penelitian deskriptif ( termasuk survey), penelitian historis, dan filosifis.
  • Problema komparatif, yaitu problema untuk membandingkan dua fenomena atau lebih. Disini peneliti berusaha mencari persamaan dan perbedaan fenomena, selanjutnya mencari arti atau manfaat dari persamaan dan perbedaan tersebut.
  • Problema korelatif, yaitu problema untuk mencari hubungan antara dua fenomena. Problema korelasi ada dua macam, yaitu korelasi sejajar, dan korelasi sebab akibat. Ketiga jenis permasalahan ini biasanya dijadikan dasar peneliti dalam merumuskan judul penelitian.

Minat dan pengetahuan atau keahlian itu dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

Profesi

Profesi atau bidang pekerjaan seseorang dapat menjadi sumber minat untuk melakukan penelitian. Semakin sering seseorang terpapar dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan profesinya, akan semakin mendorong orang tersebut berminat untuk menyelesaikannya.
Spesialisasi

Keahlian khusus seseorang akan menyebabkan orang tersebut lebih peka tehadap masalah yang berkaitan dengan keahliannya. Misalnya, seorang perawat spesialis jiwa, akan lebih peka terhadap masalah-masalah kesehatan jiwa pasien yang dirawatnya, meskipun pasien tersebut dirawat di rumah sakit umum dengan bukan karena gangguan jiwa. Sebagai contoh, ketika seorang pearwat spesialis jiwa, menemukan pasien yang akan dioperasi terlihat gelisah, maka dengan cepat perawat tersebut akan dapat melihat bahwa pasiennya sedang mengalami kecemasan berat.
Akademis

Seseorang yang telah mengalami program pendidikan yang lebih tinggi, biasanya telah mendalami tentang salah satu disiplin ilmu pengetahuan. Dengan penguasaan ilmu ini, orang tersebut cenderung lebih peka mengenali masalah dalam bidang keahliannya.
Kebutuhan dan Praktik Kehidupan Sehari-hari

Seseorang yang cenderung menaruh perhatian akan kebutuhan dan praktik kehidupan sehari-hari akan lebih peka terhadap masalah yang muncul.

Pengalaman
Seseorang yang mempunyai banyak pengalaman lapangan akan menambah kepekaannya terhadap masalah di bidangnya.

Bahan Bacaan atau Kepustakaan

Membaca dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berpikir seseorang, sehingga wawasannya akan semakin luas dan semakin mampu menggunakan penalaran dan pola berpikir kritisnya semakin berkembang. Dengan berpikir kritis ini, selanjutnya akan meningkatkan kepekaan seseorang terhadap masalah.

Memilih Masalah Penelitian

 

Banyaknya masalah penelitian yang sering ditemukan dalam pelayanan keperawatan/ kebidanan, seringkali membuat seorang peneliti harus memilih masalah penelitian yang paling layak diantara beberapa masalah tersebut. Hal yang penting dijadikan pegangan dalam memilih masalah penelitian ini adalah bahwa keputusan dan penentuan terakhir adalah terletak pada peneliti itu sendiri.

Sebelum memilih masalah, terlebih dahulu peneliti harus menentukan topik penelitian. Untuk menentukan topik penelitian Narbuko dan Achmadi (2002) menyampaikan bahwa sebelum menentukan topik penelitian, seorang peneliti harus terlebih dahulu menanyakan pada diri sendiri tentang beberapa pertanyaan berikut :
“Apakah topik tersebut dapat dijangkaunya/ dikuasainya (manageble topic)?”
“Apakah bahan-bahan/ data-data tersedia dengan cukup (obtainable data)?”
“Apakah topik tersebut penting untuk diteliti (significancy of topic)?”
“Apakah topik tersebut menarik untuk diteliti dan dikaji (interested topic)?”

Setelah topik ditentukan selanjutnya peneliti harus memilih masalah penelitian yang sesuai dengan topik tersebut. Pertimbangan dalam memilih masalah penelitian agar masalah yang dipilih layak dan relevan untuk diteliti diungkapkan oleh Notoatmodjo (2002), meliputi :

  • Masalah masih baru

“Baru” dalam hal ini adalah masalah tersebut belum pernah diungkap atau diteliti oleh orang lain dan topik masih hangat di masyarakat, sehingga agar tidak sia-sia usaha yang dilakukan, sebelum menentukan masalah, peneliti harus banyak membaca dari jurnal-jurnal penelitian maupun media elektronik tentang penelitian terkini.

  • Aktual

Aktual berarti masalah yang diteliti tersebut benar-benar terjadi di masyarakat. Sebagai contoh, ketika seorang dosen keperawatan akan meneliti tentang masalah gangguan konsep diri pada pasien yang telah mengalami hemodialise berulang, maka sebelumnya peneliti tersebut harus melakukan survey dan memang menemukan masalah tersebut, meskipun tidak pada semua pasien.

  •  Praktis

Masalah penelitian yang diteliti harus mempunyai nilai praktis, artinya hasil penelitian harus bermanfaat terhadap kegiatan praktis, bukan suatu pemborosan atau penghamburan sumber daya tanpa manfaat praktis yang bermakna.

  • Memadai

Masalah penelitian harus dibatasi ruang lingkupnya, tidak terlalu luas, tetapi juga tidak terlalu sempit. Masalah yang terlalu luas akan memberikan hasil yang kurang jelas dan menghamburkan sumber daya, sebaliknya masalah penelitian yang terlalu sempit akan memberikan hasil yang kurang berbobot.

  • Sesuai dengan kemampuan peneliti

Seseorang yang akan melakukan penelitian harus mempunyai kemampuan penelitian dan kemampuan di bidang yang akan diteliti, jika tidak, hasil penelitiannya kurang dapat dipertanggungjawabkan dari segi ilmiah (akademis) maupun praktis.

  • Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah

Masalah-masalah yang bertentangan dengan kebijaksanaan pemerintah, undang-undang ataupun adat istiadat sebaiknya tidak diteliti, karena akan banyak menemukan hambatan dalam pelaksanaan penelitiannya nanti.

  • Ada yang mendukung

Setiap penelitian membutuhkan biaya, sehingga sejak awal sudah dipertimbangkan darimana asal biaya tersebut akan diperoleh. Tidak jarang masalah-masalah penelitian yang menarik akan mendapatkan sponsor dari instansi-instansi pendukung, baik pemerintah maupun swasta.

Berdasarkan beberapa pertimbangan tersebut, sebelum melakukan pemilihan masalah penelitian, maka peneliti harus menjawab beberapa pertanyaan berikut agar masalah yang diteliti layak dan relevan (Notoatmodjo, 2002):
1. Apakah masalah yang akan diteliti merupakan masalah yang sedang hangat di dalam masyarakat saat ini?
2. Apakah masalah tersebut benar-benar aada di dalam masyarakat?
3. Sejauh mana masalah tersebut dirasakan? Apakah penduduk atau masyarakat merasakan masalah tersebut?
4. Apakah masalah tersebut mempengaruhi kelompom tertentu, misalnya ibu hamil, bayi, atau anak balita?
5. Apakah masalah tersebut berhubungan dengan masalah sosial, kesehatan ataau ekonomi yang luas?
6. Apakah masalah tersebut berhubungan dengaan kativitas program yang sedang berjalan?
7. Siapa lagi yang tertarik atau terlibat dalam masalah tersebut?

Setelah kita memilih penelitian yang akan kita teliti, kemudian kita harus mengetahui langkah-langkah peneltian, yaitu :

  1. 1.      Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah (problem identification) yaitu pengenalan masalah atau pendekatan terhadap masalah sehingga kita benar-benar mengetahui masalah yang ingin kita teliti. Identifikasi masalah perlu memperhatikan apakah masalah/ fokus yang dipilih cukup: (1) esensial/ menduduki urutan paling penting diantara masalah-masalah yang ada, (2) urgen/mendesak untuk dipecahkan, (3) bermanfaat bila dipecahkan.

  1. 2.      Batasan dan Perumusan Masalah

Tidak semua variabel hasil identifikasi dari masalah melatarbelakangi atau terkait dengan fokus masalah, maka perlu diadakan pembatasan masalah. Batasan masalah (scoupe of problem) yaitu ruang lingkup masalah atau membatasi  ruang lingkup masalah yang terlalu luas / lebar sehingga penelitian lebih bisa fokus untuk dilakukan. Sedangkan perumusan masalah (problem question) yaitu pertanyaan penelitian, yang umumnya disusun dalam bentuk kalimat tanya, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi arah kemana sebenarnya penelitian akan dibawa, dan apa saja sebenarnya yang ingin dikaji/dicari tahu oleh si peneliti. Jadi perumusan masalah merupakan pemetaan variabel-variabel yang terkait dengan fokus masalah.

Dalam merumuskan masalah penelitian ada 3 aspek yang perlu diperhatikan yaitu:

  1. substansi/isi masalah: harus berbobot dan orisinil. Berbobot artinya mempunyai nilai kegunaan walaupun tidak ada kriteria yang jelas, tetapi setidak-tidaknya dapat didekati dengan melihat kemanfaatan atau kegunaannya pada tiga hal yaitu apakah terjawabnya permasalahan, penelitian akan mempunyai nilai kegunaan teoritik, metodologi dan aplikatif. Orisinil artinya belum terjawab oleh teori maupun penelitian yang pernah dilakukan. Bila penelitian itu merupakan penelitian ‘replikasi’ dari penelitian yang sama tetapi dilakukan di tempat lain orisinilitas tetap ada karena menyangkut daerah tempat dilakukannya penelitian yang berbeda.
  1. formulasi rumusan masalah: ada 2 hal penting yang harus diperhatikan yaitu: pertama rumusan masalah hendaknya diajukan dalam bentuk kalimat pertanyaan yang mengandung setengah jawaban, diajukan dengan jelas, tajam dan akurat menyangkut inti masalah yang dikehendaki. Kedua rumusan yang dibuat mempermasalahkan hubungan antara dua variabel atau lebih.
  1. teknis: dalam hal ini perlu diperhatiakan kelayakan penelitian artinya apakah permasalahan yang telah dirumuskan dapat dijawab secara empirik dengan penelitian yang akan dilakukan.
  1. 3.      Studi Kepustakaan

Setelah masalah dirumuskan, step kedua yang dilakukan dalam mencari data yang tersedia yang pernah ditulis peneliti sebelumnya yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan. Kerja mencari bahan di perpustakaan merupakan hal yang tak dapat dihindarkan olch seorang peneliti. Ada kalanya. perumusan masalah dan studi keputusan dapat dikerjakan secara bersamaan.

  1. 4.      Hipotesis

Hipotesis merupakan suatu argumen yang akan diuji kebenarannya dimana tidak setiap penelitian harus menuliskan hipotesisnya. Dalam bidang teknik sering kali hipotesis ini dimasukkan dalam tinjauan pustaka atau studi literatur apabila sudah ada sebelumnya atau jika itu merupakan perbaikan atau modifikasi dapat kita kemukakan terlebih dahulu.

Menyusun landasan teori juga merupakan langkah penting untuk membangun suatu hipotesis. Landasan teori yang dipilih haruslah sesuai dengan ruang lingkup permasalahan. Landasan teoritis ini akan menjadi suatu asumsi dasar peneliti dan sangat berguna pada saat menentukan suatu hipotesis penelitian.

Peneliti harus selalu bersikap terbuka terhadap fakta dan kesimpulan terdahulu baik yang memperkuat maupun yang bertentangan dengan prediksinya. Jadi, dalam hal ini telaah teoritik dan temuan penelitian yang relevan berfungsi menjelaskan permasalahan dan menegakkan prediksi akan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa hipotesis penelitian dapat dirumuskan melalui jalur:

  1. Membaca dan menelaah ulang (reviu) teori dan konsep-konsep yang membahas variabel-variabel penelitian dan hubungannya dengan proses berfikir deduktif.
  2. Membaca dan mereviu temuan-temuan penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan penelitian lewat berfikir induktif.
  1. 5.      Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah faktor yang apabila diukur memberikan nilai yang bervariasi ( H. Purwo Sutanto & Yuli Pratomo Akhadi : 2007). Peneliti perlu menentukan variabel-variabel penelitian. Misalnya, apabila seorang peneliti ingin menyelidiki apakah benar bahwa susu menyebabkan badan menjadi gemuk, maka yang menjadi obyek penelitiannya adalah susu dan berat badan orang. Maka susu dan berat badan merupakan variabel penelitian.

Ada beberapa jenis variabel yang dipakai dalam penelitian, yaitu antara lain :

  1.  Variabel Variabel Bebas atau Variabel Penyebab (Independent Variable), yaitu variabel yang mempengaruhi variabel yang lain atau diduga sebagai penyebab timbulnya variabel yang lain. Variabel bebas disebut juga variabel X.
  1.  Variabel Tergantung atau Variabel Terikat (Dependen Variable), yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas atau variabel yang muncul sebagai akibat dari variabel bebas. Variabel terikat disebut juga variabel Y. Dalam contoh penelitian di atas susu merupakan variabel bebas ( X )dan berat badan merupakan variabel terikat ( Y ).
  1. Variabel Moderator, yaitu variabel-variabel atau factor-faktor lain yang mempengaruhi jalanya penelitian.
  1.  Variabel Kontrol, yaitu variabel yang dikontrol oleh peneliti untuk menetralkan pengaruhnya terhadap variabel tergantung.

Misalnya, jika peneliti ingin mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar siswa kelas X SMK yang diajar dengan strategi problem solving dengan siswa yang diajar dengan metode latihan ?. Maka yang dijadikan sebagai variabel moderator misalnya adalah sarana belajar mengajar, kemampuan dasar siswa, latar belakang siswa, lingkungan belajar siswa, dan lain-lain. Sedangkan variabel kontrolnya berupa siswa kelas X SMK yang tidak diajar dengan metode problem solving maupun metode latihan.

  1. 6.      Metode Penelitian (Pengumpulan Data)

Dari metode pengumpulan data ini ada beberapa tahapan dalam pengumpulan data  yaitu menyangkut :

  1. Perumusan tujuan pengumpulan data.

Tujuan pegumpulan data sangat tergantung pada tujuan dan metodologi penelitian, khususnya metodologi analisa data. Secara umum pengumpulan data bertujuan untuk memperoeh fakta yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian. Begitu juga penentuan objek yang akan dikumpulkan datanya oleh latar belakang dari perumusan maslah riset, serta pemilihan contoh (sampling). namun demikian identitas objek pengaruh pada jenis data yang akan dikumpulkan, teknik dan alat bantu yang digunkan serta tahapan pengumpulan data.

  1. Penentuan jenis data yang akan dikumpulkan.

Secara umum data dibagi dua kategori yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah nilai dari perubahan yang tidak dapat dinyatakan dalam angka-angka,s ebaliknya data kuantitatif adalah nilai perubahan yang dapat dinyatakan dalam angka. Pandangan umum bahwa data kuantitatif merupakan kategori data yang lebih baik dan dan data kualitaif yang dinilai sering tidak pasti. Namun sebenarnya keduanya saling melengkapi, karena hanya dengan data kualitatif saja tidak akan memberikan informasi yang lengkap tanpa dukungan data kuantitatif yang jelas. Juga terkadang data kuantitatif sering kali tidak cukup untuk menggambarkan keadaan sebenarnya juka tida ditunjang oleh data kualitatif yang memadai.

Pembeda data lain sering digunakan data primer dan data sekunder. Data perimer adalah data yang diperoleh langsung oleh pengumpul data dari obejek penelitiannya. Sedang data sekunder adaah semua data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek yang diteliti. Dalam pengumpulan data primer, improvisasi peneliti terhadap objek penelitian sangat penting dilakukan, terutama untuk memperoleh informasi kualitatif yang melatar belakangi data kuantitatif yang diperoleh. Pengumpulan data primer tetap dapat dilakukan dengan menggunakan tenaga pembantu (enumerator), asalkan peneliti telah menghayati permasalahan yang dihadapi atau telah menemukan objek penelitiannya. Sedangkan pada data sekunder yang diperlukan hanyalah keadaan atau ada-tidaknya data itu sendiri.

Data lainnya ada istilah data kerat lintang (cross section) dan data deret waktu (Time series). Data kerat lintang (cross section) adalah data mengenai fakta-fakta yang terjadi pada waktu bersamaan yang dikumpulkan dari berbagai sumber, sedang data deret waktu (time series) adalah data mengenai fakta-fakata pada waktu berbeda dan umumnya dikumpulkan dari sumber yang sama.

  1. Menentukan teknik pengumpulan data yang akan digunakan.

Setiap jenis data yang dikumpulkan dengan menggunkan salah satu teknik pengumpulan data. Perbedaanya hanya dalam hal cara menghasilkan data yang dimaksud, terutama dalam hal hubungannya dengan pengolahan dan penyajian data. Banyak teknik yang sering digunakan para peneliti dari berbagai buku penelitian yang semuanya digunakan dengan berbagai kombinasi terbaik sehingga diharapkan mendapatkan data yang akurat dan bias dipercaya.

·         Observasi langsung.

·         Interview

·         Pengisian daftar isian

·         Studi pustaka

  1. Menentukan alat bantu pengumpulan data

Pada dasarnya setiap teknik pengumpulan data memerlukan alat bantu yang berbeda. Beguitu juga penggunaan alat bantu sangat tergnatung pada tujuan penelitian dan jenis data yang akan dikumpulkan. Perkembangan teknologi penelitian memberikan dinamisasi dan fleksibilitas. Tapi secara umum alat bantu pengumpulan data dapat dikelompokan menjadi catatan penelitian, daftar pertanyaan, daftar ceklist.

  1. Penyajian dan pengolahan data awal.

Data yang telah dikumpulkan perlu disusun terlebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut. Ahsul pengolahn dan analisis data pada tahaps elanjutnya akan disebut sebagai penyajian dan pengolahan data alkhir. Tujuan penyajian dan pengolahan data awal adalah untuk memperoleh data yang komprehnesif sesuai dengan tujuan riset. Hal itu diperlukan Karen adalm proses pengumpulan data, data untuk satu analisis dapat dikumpulkan dari berbagai sumber yang terpisah sehingga perlu dipadukan terlebih dahulu. Pengolahan awal juga dilakukan untuk membersihkan data dari kesalahan-keslahan yang mungkin terjadi selama proses pengumpulan data,s eerti keslahan pencttatan, keslahah pentuan contoh. Terapdta beberpaa tahapan proses pengolahan data awal, antara lain penyusunan kategori untuk data kualitatif, pemberian ode dan penyusunan master table.

Metodologi Penelitian

  1. Survey Literatur: penelaahan terhadap semua dokumentasi, baik yang terbit maupun tidak terbit, di dalam area yang berhubungan dengan masalah yang ingin diteliti.
  1. Observasi Lapangan: adalah cara pengambilan data melalui pengamatan langsung di lapangan.
  1. Survei Wawancara: merupakan suatu teknik pengumpulan informasi yang dilakukan dengan cara menyusun daftar pertanyaan yang diajukan pada responden.
  1. Kuisoner: merupakan instrumen utama pengumpul data penelitian survei ataupun feedback dan terdiri dari daftar pertanyaan yang disampaikan kepada responden secara tertulis.
  1. 7.      Pengujian
  • Uji Validasi

Validitas atau tingkat ketepatan adalah tingkat kemampuan instrumen penelitian untuk mengungkapkan data sesuai dengan masalah yang hendak diungkapkannya. Dari sudut instrumen, pengukuran adalah kemampuan instrumen penelitian untuk mengukur apa yang hendak diukur secara tepat dan benar. Validitas berarti juga bahwa instrumen penelitian merupakan bukti kemampuannya dalam mengungkapkan sesuatu atau yang diukur atau diamati oleh peneliti, sesuai dengan apa yang sesungguhnya ada dalam kenyataan.

  • Uji Realibilitas

Reliabilitas atau tingkat ketetapan (consistency atau keajegan) adalah tingkat kemampuan instrumen penelitian untuk mengumpulkan data secara tetap dari sekelompok sampel. Instrumen yang memiliki tingkat reliabilitas tinggi cenderung menghasilkan data yang sama tentang suatu variabel atau unsur-unsurnya, jika diulangi pada waktu yang berbeda pada kelompok sampel yang sama.

Setiap pengukuran atau deretan pengukuran dapat termasuk dalam klasifikasi :

  • neither valid nor reliable (tidak valid dan tidak reliabel)
  • valid but not reliable (valid tetapi tidak reliabel)
  • reliable but not valid (reliabel tetapi tidak valid)
  • valid and reliable (valid dan reliable)

Dalam hal ini kita menyadari bahwa alat ukur dan hasil pengukuran berkaitan atau merupakan satu kesatuan, sehingga kriteria validitas dan reliabilitas tidak dapat berdiri sendiri. Dan, kita selalu berusaha untuk membuat atau memakai alat ukur yang terpecaya (reliable) dengan hasil pengukuran yang valid.

  1. 8.      Pengolahan dan Analisis Data

Setelah kita melakukan pengujian terhadap instrument penelitian, kita dapat menyimpulkan beberapa data yang layak atau tidak layak untuk kita bawa ke pengolahan selanjutnya. Rancangan anlisis adalah berbagai alat analisis data penelitian agar rumusan masalah penelitian dapat terpecahkan, hipotesis penelitian dapat dibuktikan atau diuji, dan akhirnya tujuan penelitian dapat tercapai.

Pengolahan Data:

Persiapan

Kegiatan dalam langkah persiapan ini antara lain :

• Mengecek nama dan kelengkapan pengisi

• Mengecek kelengkapan data, isi instrumen.

• Mengecek macam isi data, menyortir data

Tabulasi

Pembuatan tabulasi adalah pekerjaan pemroses data, yaitu memasukkan data-data kedalam tabel dan mengatur angka-angka sehingga dapat di hitung jumlah kasus dalam beberapa kategori.

 Analisis dan Interpretasi Data

Hal penting yang perlu diingat dalam melakukan analisis data adalah mengetahui dengan tepat penggunaan alat analisis, sebab jika kita tidak memenuhi prinsip-prinsip dari pemakaian alat analisis, walaupun alat analisisnya sangat canggih, hasilnya akan salah diinterpretasikan dan menjadi tidak bermanfaat untuk mengambil suatu kesimpulan. Model-model statistika untuk keperluan analisis data telah begitu berkembang, dari model-model statistika deskriptif hingga ke statistika inferensial non parametrik dengan persyaratan yang lebih “lunak “ dibandingkan dengan statistika parametrik yang sangat ketat dengan persyaratan-persyaratan tertentu dan sulit dipenuhi dalam kerangka penelitian sosial.

Ketika kita memutuskan untuk melakukan analisis data menggunakan alat statistika, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Dari mana data diperoleh, apakah berasal dari sampel (melalui proses sampling) atau dari populasi (dengan cara sensus)
  • Jika berasal dari sampel apa teknik sampling yang digunakan, apakah termasuk kelompok sampling probabilitas atau non probabilitas.
  • Memakai skala apa data diukur, apakah menggunakan skala nominal, ordinal, interval, atau rasio.
  • Bagaimana hipotesis yang dibuat apakah perlu dilakukan pengujian satu arah atau dua arah kalau memakai statistika inferensial.

Statistika Deskriptif sebagai Alat Analisis:

Statistika Deskriptif merupakan metode atau alat analisis yang biasa digunakan untuk menyederhanakan data agar mudah dipahami. Penyajiannya bisa dalam bentuk tabel, baik tabel frekuensi maupun tabel silang atau dalam bentuk diagram dan grafik seperti diagram batang, kurva dll.

Statistika deskriptif dapat diterapkan baik untuk data yang berasal dari sampel maupun populasi, juga untuk sampel yang diambil dengan sampling probabilitas maupun non probabilitas, serta bisa digunakan untuk semua skala pengukuran dari mulai yang paling lemah (nominal) hingga skala rasio. Statistika Deskriptif sering digunakan untuk mengukur gejala pemusatan, dan dispersi atau simpangan data. Termasuk ukuran gejala pusat antara lain:: modus, median, persentil, mean atau rata-rata. Tergolong ukuran dispersi data antara lain: rentang (maksimum – minimum), deviasi standard, koefisien variasi. Jika dikaitkan dengan skala pengukuran dari data yang dianalisis, statistika deskriptif yang cocok digunakan adalah:

1. Skala Nominal : Modus, Frekuensi

2. Skala Ordinal : Median, Persentil, Rentang

3. Skala Interval : Mean, Deviasi Standard

4. Skala Rasio : Mean, Koefisien Variasi (ukuran dispersi relatif)

Statistika Nonparametrik sebagai Alat Analisis:

Dalam analisis data penelitian-penelitian sosial saat ini sering digunakan Statistika Nonparametrik. Statistika ini termasuk dalam ketegori Statistika Inferensial, yang dipakai untuk menafsirkan parameter (populasi) berdasarkan statistik (sampel) melalui pengujian statistic atau yang lebih dikenal dengan Uji Signifikansi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan Statistika.

Nonparametrik antara lain:

  • Penggunaan Statistika Nonparametrik hanyalah untuk data penelitian yang berasal dari sampel, sebab jika data penelitian berasal dari populasi (sensus) hasil pengukurannya berupa parameter, dengan demikian tidak perlu ditafsirkan lagi tetapi bisa langsung diinterpretasikan.
  • Statistika Nonparametrik mensyaratkan pengambilan data dengan cara random, karena di dalamnya mengandung kaidah-kaidah probabilitas.
  • Perhatikan hipotesis penelitian, karena hipotesis tersebut mengindikasikan apakah pengujian (uji signifikansi) harus dilakukan satu sisi atau dua sisi.
  • Perhatikan dengan cermat, apakah penelitian kita terdiri atas kasus satu sampel, dua sampel, atau lebih dari dua sampel.
  • Jika penelitian merupakan kasus dua sampel atau lebih, perhatikan dengan lebih teliti, apakah merupakan sampel yang berpasangan atau tidak berpasangan.
  1. 9.      Penulisan Laporan Penelitian

Laporan hasil penelitian merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban kegiatan penelitian yang dituangkan dalam bahasa tulis. Adapun sistematika penulisannya yang secara konvensi telah dituangkan dalam Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Secara garis besar kerangka laporan penelitian mencakup tiga bagian utama, yakni bagian pendahuluan (atau bagian pengantar), bagian isi, dan bagian penunjang.

A.Bagian Pendahuluan, terdiri atas :

Halaman judul;

lembaran persetujuan;

kata pengantar;

daftar isi;

daftar table;

daftar gambar dan lampiran;

serta abstrak atau ringkasan.

B. Bagian Isi, umumnya terdiri dari beberapa bab yaitu :

Bab I. Permasalahan atau Pendahuluan

Bab II. Kajian Teori atau Pembahasan Kepustakaan

Bab III. Metodologi atau Uraian Metode dan Prosedur Pengkajian

Bab IV. Hasil-hasil dan Diskusi Hasil Kajian Bab V. Kesimpulan dan Saran-saran

C. Bagian Penunjang, biasanya terdiri atas :

1. Daftar Pustaka

2. Lampiran-lampiran yang diperlukan dalam menunjang isi laporan

About these ads