Tahukah Kamu ?

Penyakit Demam Berdarah di Indonesia pertama kali ditemukan di Surabaya pada tahun 1958.

Sebanyak 58 orang terinfeksi  dan 24 diantaranya meninggal dunia. Mulai saat itu, penyakit ini pun menyebar luas keseluruh penjuru Indonesia. Kejadian luar biasa terjadi pada tahun 1998, dimana Departemen Kesehatan Republik Indonesia mencatat sebanyak 72.133 korban terjangkit penyakit ini dengan jumlah korban meninggal 1.414 jiwa.

Belum ada vaksin pencegah Demam Berdarah.

Hingga saat ini, dunia kedokteran belum menemukan vaksin pencegah penyakit mematikan ini. Untuk itu, pencegahan harus terus dilakukan, terutama di musim pancaroba dan musim hujan karena biasanya di waktu inilah daya tahan manusia menurun dan mudah terjangkit berbagai penyakit, termasuk penyakit Demam Berdarah.

Nyamuk Aedes aegepty tidak dapat berkembang biak di genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah.

Saat nyamuk tersebut sudah siap bertelur, maka mereka akan mencari tempat-tempat penampungan air bersih di sekitar rumah yang tidak berhubungan langsung dengan tanah seperti bak air dan vas bunga. Maka disarankan juga untuk tidak menggantung pakaian di dalam rumah karena di tempat inilah biasanya nyamuk Aedes aegepty beristirahat dan membuat telur.

Demam Berdarah banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis.

Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita Demam Berdarah di tiap tahunnya. Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun 2009 World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus Demam Berdarah tertinggi di Asia Tenggara. Dari jumlah keseluruhan kasus tersebut, sekitar 95%-nya terjadi pada anak di bawah 15 tahun, yaitu usia 5 – 11 tahun.