Just a opinion from me..

Tahun 2010 adalah tahun dimulainya FTA (Perjanjian Perdagangan Bebas) ASEAN-China dilaksanakan. Namun pertanyaan besarnya apakah China merupakan negara yang tepat untuk diajak bekerjasama dalam perdagangan bebas? Secara China bukanlah negara yang mudah untuk menyerap produk-produk asing gitu loh.

Terbukti, China hanya menyumbang sedikit dari rata-rata pendapatan perusahaan-perusahaan multinasional yang beroperasi di negara itu. Misalnya Procter and Gamble (P&G), salah satu perusahaan manufaktur multinasional raksasa, hanya mendapatkan kurang dari 5% dari total pendapatannya.

Dan lagi pula buat apa China mengkonsumsi produk-produk asing yang masuk ke negara mereka secara mereka adalah raja pengekspor dunia?? Pertanyaanya sekali lagi, apakah China merupakan negara yang tepat untuk bekerja sama dalam perdagangan bebas?

Produk China telah beredar di mana-mana di nusantara kita. Dari produk-produk otomotifnya sampai produk-produk tradisional seperti kancing baju, bahkan jarum! Obat-obatan China pun telah beredar dan laku di perusahaan-perusahan farmasi di Indonesia. Terbukti sampai dengan tahun 2007 nilai impor Indonesia terhadap China telah mencapai 8,5 miliar dollar AS. Angka ini menempati urutan ke-dua dalam daftar negara importir ke Indonesia setelah Singapura.

Pengaruhnnya buat Indonesia? Hampir semua sektor dalam industri manufaktur di Indonesia mengalami penurunan. Hanya ada empat sektor yang mengalami penguatan, yakni industri pengolahan tembakau, industri barang dari kulit, industri furnitur, dan pengolahan lainnya. Uh.. untung empat sektor itu dapat bertahan.

Pengaruh lain dari penurunan sektor industri manufaktur itu, yaitu semakin sedikit lowongan kerja di negara kita dan makin banyak yang menganggur. Dan yang lebih disayangkan lagi, di tengah penurunan sektor industri manufaktur tersebut, konsumsi masyarakat makin meningkat. Situasi ini memaksa kita untuk lebih banyak lagi mengimpor barang-barang China.

Masuknya produk China tentu akan semakin memberikan keuntungan baginya karena konsumsi meningkat, tetapi sekaligus menjatuhkan industri manufaktur nasional Indonesia.

Akibat lain? Masih ada lagi. Melemahnya sektor industri manufaktur tersebut tentu saja akan berdampak tidak baik pada sektor lain, seperti sektor pertanian, perikanan, kehutanan dan peternakan, di mana sektor-sektor tersebut sangat bergantung pada sektor industri manufaktur. Untuk apa mereka memproduksi sedangkan hasil produksi tersebut tidak dijadikan barang jadi? Maka bisa saja kita akan terlindas juga dengan perjanjian FTA lain, seperti FTA dengan Australia dan Selandia Baru yang mana produk utama kedua negara ini adalah pertanian dan perikanan. Oh.. God do not let it happen, sektor apalagi yang bisa kita andalkan? Mungkin masih ada sektor keuangan.

Tapi, seperti apa yang sudah terlihat tentang hancurnya perekonomian negara-negara Eropa Timur karena krisis finansial global disebabkan tidak adanya sektor lain yang unggul selain jasa keuangan.

Selayaknya, rezim perdagangan bebas harus diikuti oleh negara-negara yang memang telah secara nasional perekonomiannya siap untuk bertanding, setidaknya memiliki spesialisasi dalam sektor perekonomiannya. Mengapa takut untuk katakan “tidak” kalau hal itu demi kesejahteraan rakyat Indonesia.