PPN (pajak pertambahan nilai), awalnya dikenal sebagai pajak penjualan tapi sekarang dirubah karena mengingat istilah tersebut kurang meluas. PPN dikenakan untuk barang atau jasa kena pajak yang disingkat menjadi BKP dan JKP. BKP dan JKP, pajaknya ditanggung oleh si penjual, istilah untuk si penjual yaitu PKP (Pengusaha Kenak Pajak).

Istilah sedikit,,

Pajak Masukan adalah PPN yang seharusnya dibayar oleh PKP (pengusaha kena pajak), karena perolehan BKP (barang kena pajak) dan atau JKP (jasa kena pajak) dari luar/ekspor. (pajak yang masuk menjadi pajak si pembeli dikarenakan membeli suatu barang, padahal itu kan pajak si penjual).

Pajak Keluaran adalah PPN terutang yang wajib dipungut oleh si penjual /PKP kepada si pembeli. (pajak yang dikeluarkan oleh si penjual kepada si pembeli barang dan atau jasa).

Kewajiban Pengusaha Kena Pajak :

1. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak)

2. Memungut PPN dan PPnBM (pajak pertambahan nilai untuk barang mewah) yang terutang, (memungut dari si pembeli).

3. Menyetorkan PPN yang masih harus dibayar dalam hal Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan yang dapat dikreditkan serta menyetorkan PPnBM yang terutang.

4. melaporkan penghitungan pajak.

Catat 1:

BKP dan atau JKP yang dimpor maupun diekspor, keduanya kena pajak. Tapi tarifnya:

BKP dan/ JKP impor : tarif  PPN 10%

BKP dan/JKP ekspor : tarif PPN 0% (nihil) -> artinya disarankan untuk mengekspor barang sebanyak-banyaknya. Selain itu BKP dan/JKP yang diekspor tadi kan diperoleh dari penjual lain yang dimana Pajak Masukan dapat dikredit, (kemudahan yang layak bagi si peekspor barang).

Catat2:

Perbedaan PPN dengan PPnBM :

PPn -> untuk orang kaya -> tarif objek pajak (BKP dan/JKP) lebih rendah daripada PPnBM -> 5%-15%.

PPnBM -> untuk orang yang lebih kaya -> tarif objek pajak (BKP dan/JKP) lebih tinggi daripada PPn -> 10%-20%

Catat3:

PPnBM jarang sekali kita temui, mengapa?

Karena PPnBM dikenakan untuk BKP yang tergolong mewah yang hanya dikenakan satu kali saja yaitu pada waktu penyerahan BKP yang tergolong mewah oleh pengusaha yang menghasilkan/memproduksi BKP tersebut, atau pada waktu impor BKP yang tergolong mewah.

Cara Menghitung PPN

PPN = Dasar Pengenaan Pajak x Tarif Pajak

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) yaitu harga jual (untuk BKP), penggantian (untuk JKP), nilai ekspor/impor (untuk ekspor/impor), nilai lain yg diatur oleh Menkeu.

Mekanisme Pengenaan PPN

1. Pada saat membeli/memperoleh BKP/JKP, akan dipungut PPN oleh PKP (Pengusaha Kena Pajak)/ penjual. Bagi pembeli, PPN yang dipungut oleh PKP tersebut merupakan pembayaran pajak di muka dan disebut dengan Pajak Masukan. Pembeli berhak menerima bukti pemungutan berupa faktur pajak.

2. Pada saat menjual/menyerahkan BKP/JKP kepada pihak lain, si penjual wajib memungut PPN. Bagi si penjual, PPN tersebut merupakan Pajak Keluaran. Sebagai bukti telah memungut PPN, PKP wajib membuat faktur pajak.

3. Apabila dalam suatu masa pajak (misal 1 bulan) jumlah Pajak Keluaran lebih besar daripada jumlah Pajak Masukan, selisihnya harus disetorkan ke kas negara.

4. Apabila dalam suatu masa pajak jumlah Pajak Keluaran lebih kesil daripada Pajak Masukan, selisihnya dapat direstitusi (diminta kembali) atau dikompensasikan ke masa pajak beriutnya.

5. Pelaporan penghitungan PPN dilakukan setiap masa pajak dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Masa PPN yang disebut SPT Masa PPN.

Contoh :

Sepanjang bulan Maret 2011, PT ABC mempunyai transaksi sebagai berikut :

@ Membeli bahan baku seharga Rp. 100.000.000,- (dipungut PPN sebesar Rp. 10.000.000,-. -> DPP x 10%)

@ Membeli bahan penolong seharga Rp. 40.000.000,- (dipungut PPN sebesar Rp. 4000.000,-)

@ Menjual produknya seharga Rp. 200.000.000,- ( memungut PPN sebesar Rp. 20.000.000,-)

@ Perhitungan PPN :

Jumlah Pajak Keluaran – Jumlah Pajak Masukan = PPN kurang bayar

Rp. 20.000.000 – Rp. 14.000.000,- = Rp. 6000.000,-

Jadi, Jumlah PPN kurang bayar sebesar Rp. 6000.000,- ini harus disetorkan ke kas negara.

Cara Menghitung PPN

Contoh :

1. PKP A menjual tunai BKP kepada PKP B dengan harga jual Rp. 25.000.000,-. PPN yang terutang :

10% x Rp. 25.000.000,- = Rp. 2.500.000,-

PPN sebesar Rp. 2.500.000,- tersebut merupakan pajak keluaran, yang dipungut oleh PKP A. Sedangkan bagi PKP pajak B, PPN tersebut merupakan Pajak Masukan.

2. Seseorang mengimpor BKP dari luar daerah pabean dengan Nilai Impor Rp. 15.000.000,-. PPN yang dipungut melalui Direktorat Jendral Bea dan Cukai = 10% x Rp. 15.000.000,- = Rp. 1.500.000,-

Jurnal Akuntansi PPN Keluaran

Bagaimanakah jurnal akuntasi pada saat pemungutan PPN oleh PKP? Nah, yang harus diingat adalah bahwa ketika PKP melakukan pemungutan PPN, pajak keluaran yang dipungut pada hakikatnya adalah milik negara sehingga pajak keluaran merupakan hutang bagi PKP. Misal, tanggal 20 Oktober 2008, PT ABC (PKP) menjual barang dagangannya dengan harga Rp100.000.000,-. Pajak keluaran yang dipungut adalah Rp10.000.000,-. Jurnal akuntansi pada saat penjualan ini adalah sebagai berikut :

Kas 110.000.000 (D)

Penjualan 100.000.000 (K)

Pajak Keluaran 10.000.000 (K)

Perhatikan bahwa, kas yang diterima adalah Rp110.000.000,- yaitu harga jual dan PPN yang dipungut. Perkiraan Penjualan kredit sebesar Rp100.000.000,- dan hutang pajak keluaran Rp10.000.000,-. Jika penjualan kredit, maka perkiraan kas diganti dengan piutang dagang.

Jurnal akuntansi pada saat membayar pajak :

Pajak Keluaran 10.000.000 (D)

Kas 10.000.000 (K)

Jurnal Akuntansi PPN Masukan

Kebalikan dari PPN keluaran, PPN masukan pada hakikatnya adalah piutang karena PPN yang dibayar dapat diklaim ke negara. Nah, dari sudut pandang ini kita bisa tahu nantinya bahwa akun Pajak Masukan ada di bagian kredit dalam jurnal akuntansinya. Contoh, pada tanggal 25 Oktober 2008 PT ABC (PKP) membeli barang untuk persediaan barang daganganya dari PT DEF (PKP). Harga belinya adalah Rp70.000.000,- dan PPN masukan yang dibayar adalah Rp7.000.000,-. Jurnal akuntansinya adalah :

Pembelian 70.000.000 (D)

Pajak Masukan 7.000.000 (D)

Kas 77.000.000 (K)

Perhatikan bahwa kas yang dikeluarkan adalah Rp77.000.000,- yang terdiri dari harga beli Rp70.000.000,- dan PPN masukan Rp7.000.000,-. Jika pembelian dilakukan secara kredit, akun kas diganti dengan hutang dagang.

OKe. Semoga Bermanfaat. Amin