Aku baru menyadarinya tahun ini, tahun 2015. Begitu banyak yang aku pelajari pada tahun ini. Awalnya aku bertanya pada diri sendiri, ‘kenapa aku begini? Aku aneh? Kok aku gitu?’, kalimat-kalimat itu berputar-putar di pikiranku selama bertahun-tahun.

Ketika mereka bercerita, aku lebih suka diam mendengarkan. Ketika mereka tertawa, aku hanya berfikir, ‘kenapa aku tidak merasa itu lucu’ sambil berusaha ikut tertawa. Ketika mereka masih ingin bermain sehabis pulang sekolah, aku malah ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Ketika mereka mengajak jalan-jalan di akhir pekan, aku membuat alasan macam-macam untuk tidak ikut jalan-jalan. Ketika mereka saling bercanda di sebuah acara halal-bihalal, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang. Aku suka makan sendiri di rumah sambil nonton tv, aku suka belajar sendiri daripada belajar kelompok, aku menganggap belajar kelompok itu tidak efektif padahal itu salah!. Itu lah aku sejak SMP hingga kuliah, aku masih belum sadar bahwa perbuatan ku itu adalah salah, aku merasa itu sudah benar karena buktinya aku selalu dapat juara kelas.

Waktu kuliah aku paling bersemangat pada saat kuliah ekstensi, dimana kuliah ekstensi itu adalah kuliah untuk mendapat gelar S1 dan kuliah itu dilaksanakan di sore hari. Tahu kenapa aku bersemangat? ‘Yey.. aku bisa belajar sendiri di rumah bersama laptop ku sepanjang hari..’ pikirku. Ya, aku senang, dan benar saja, aku melakukannya. Aku belajar dari pagi di depan laptopku, mencari arti dari sebuah kalimat yang menyangkut mata kuliahku, aku mencari makna kalimat itu sampai aku benar-benar mengerti, aku tidak puas kalau hanya dari satu sumber, aku mencari dari banyak sumber, aku mencari contoh nya kemudian aku analisa, aku bandingkan dengan contoh yang lain, kemudian aku instropeksi, contoh mana yang paling tepat dan mudah dipahami. Untuk mencari makna dari satu kalimat, aku bisa menghabiskan waktu 3 sampai 4 jam.

Aku tahu itu sangat tidak efisien, aku berusaha untuk menghemat waktu setiap kali aku belajar, tapi itu sulit, aku tidak mudah melakukannya, aku terlalu penasaran dengan makna-makna kalimat yang aku belum mengerti tersebut, dan aku bahagia ketika mencari, menelusuri, menganalisa makna kalimat itu. Aku melakukannya hampir setiap hari, aku senang karena itu tidak sia-sia, aku mendapat IPK yang cukup membuat ku tersenyum sumringah.

Hingga akhirnya aku selesai kuliah dan memperoleh gelar sarjana, aku bekerja di salah satu perusahaan yang belum terlalu besar, perusahaan kecil yang baru lahir tiga tahun yang lalu sejak saat itu. Pada saat itu, aku juga belum sadar. Kemudian aku pindah kerja ke tempat yang lebih baik, perusahaan yang lumayan besar yang sudah memiliki banyak karyawan. Aku gelisah, sangat gelisah saat awal masuk di perusahaan tersebut. Aku bertanya dalam hati, ‘kenapa aku begini?’

Akhirnya aku sadar, ini adalah salah. Hidup ini bukan untuk sendiri, kita adalah makhluk sosial yang pasti membutuhkan orang lain. Walaupun kesendirian adalah sumber energi mu, tapi orang lain pasti selalu kau butuhkan.

Aku mengira kenapa aku berbeda dengan orang lain, aku sedih, aku bimbang. Sampai akhirnya aku tak sengaja menemukan sebuah artikel, artikel Ronald Frank. Kesedihanku dapat terobati karena ternyata bukan aku saja yang memilki kepribadian seperti itu, ternyata banyak orang di luar sana yang merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Ya .. We are Introvert.

Introvert harus dibarengi dengan sifat ektrovert, sehingga kita bisa menjadi orang yang lebih baik. Kita harus menggunakan kedua-dua nya dengan beriringan dan sejalan. Kita harus bisa seperti ekstrovert yang luwes, ramah-tamah, suka bercanda, walau agak susah, tapi kita harus mencobanya! Aku sudah mulai bisa menjadi seperti ekstrovert dalam setahun terakhir ini. Awalnya memang susah, sangat susah bahkan, hingga aku terkadang menangis, aku tidak tahu kenapa. Tapi sekarang aku bahagia, aku sekarang sudah tidak canggung lagi untuk tersenyum pada semua orang yang aku lihat, aku mencoba menegur dan menghapal semua nama mereka, nama OB atau bahkan satpam sekalipun. Susah….. tapi lihat sekarang, semua mengenalku.

Kita harus bisa seperti ekstrovert tanpa meninggalkan sifat introvert sejati kita. Introvert yang fokus dan ‘dalam’, introvert yang memilki hobi berfikir dan berimajinasi kapanpun dan dimanapun.. Introvert yang menulusuri setiap masalah ke akarnya, introvert yang sensitif dan peka terhadap orang lain, introvert yang suka mendengar, introvert yang suka menulusuri sangat dalam apapun yang menarik menurutnya. Pertahankan sifat positif/baik introvert dan barengi dengan sifat ekstrovert, sehingga jadilah kita orang yang lebih baik. AAmiin.